Sabtu, 09 Maret 2019

Mengenang Obsesi Pelukis Harjiman

Keterangan:
Almarhum Pelukis Harjiman dan Almarhum Pelukis Tarmuzie,
foto sekitar tahun 1980-an.

Tampil sosok Seniman lukis kondang dengan berbagai hasil karya yang begitu populair. H. Harjiman, yang berhasil membenahi Kampung Taman Sari sehingga bangkit menjadi pusat kehidupan batik yang menjanjikan lestarinya seniman dan perajin batik, karya batik yang tumbuh hingga berkembang seiring kemajuan zaman.

Untuk menghadirkan profil kita kali ini secara utuh adalah tidak mungkin, kesempatan penulis ketemu dengan beliau di studio-nya Sentikan Kalasan tidak akan dapat menggambarkan ujud utuh sosok H. Harjiman sang pelukis yang sarat dengan dedikasi, profesi, prestasi dan idealismenya yang sangat tinggi. Sehingga dalam kesempatan penuturan kali ini, penulis hanya ingin mengurai sisi obsesi Harjiman yang ingin mewujudkan simbiosis mutualisma antara museum Harjiman dengan lingkungannya di Sentikan.

Dalam menghadirkan profil Harjiman, selain dari hasil omong-omong langsung, penulis melengkapi bahan tulisan ini dengan literatur : Proses Kreatif H. Harjiman oleh Sri Harjanto Sahid, serta dari Seni Lukis H. Harjiman, Kontemplasi dan Ritus oleh M. Agus Burhan.

Harjiman lahir 21 Februari 1954 di Taman Sari, Kecamatan Kraton Yogyakarta ialah anak terakhir dari tiga bersaudara, dari simbok Sudjiah dan Bapak Harjoutomo (Setu). Sejak SD hingga kuliah di STSRI ASRI, Harjiman membagi waktu dengan berjualan es dorong. SMP nya diselesaiakan di Taman Dewasa Pedotan, Jajak, Banyuwangi, kemudian Taman Madya Ibu Pawiyatan Yogyakarta.

Harjiman merupakan salah seorang diantara beberapa Seniman Seni Rupa yang produktif. Baginya berkesenian itu sudah menjadi tekad dan menyatu dalam hidupnya. Buktinya bahwa karena kesungguhannya dalam menggeluti dunia seni lukis berbagai persoalan kehidupan yang bersifat lahiriah maupun batiniah melalui kontemplasinya terhadap hal ini tetap mampu memacu kreatifitasnya, yang tercermin nyata dalam karya-karyanya.

Banyak seniman menganggap bahwa melukis haruslah total, menjadi aktivitas tunggal. Di antara kerumitan pilihan sikap itu, Harjiman (49) melukis dengan lapar, demikian pun dalam menggalang Paguyuban Senirupawan Taman Sari, atau secara sporadis terlibat dalam kegiatan seni lainnya. Masih belum cukup dengan itu semua, juga sangat obsesif ingin membangun museum pribadi di dekat studionya di Sentikan Kalasan.

Harjiman termasuk seniman yang percaya bahwa menggulirkan wacana seni lukis tidak mesti hanya lewat kanvas. Lukisan sebagai artifak, lewat kerja seni yang intens juga telah membekukan fakta-fakta dari dimensi sosial maupun mental dan kejiwaan. Dengan kata lain melukis bukanlah hanya berhenti menciptakan benda-benda, namun lebih jauh lagi untuk menggulirkan pemikiran dan makna-makna. Dengan demikian pengguliran wacana itu juga bisa dilakukan pelukis lewat komponen-komponen bantunya. Dalam kontek demikianlah Harjiman bisa didekati secara integratif dalam semua aktifitas maupun persoalan-persoalan hidup yang melingkupi keseniannya.

Harjiman tumbuh dari keluarga sederhana di Kampung Taman Sari, ia ikut membatik seperti kebanyakan tetangganya. Kehidupan yang keras diisi juga dengan membantu ayahnya berjualan es. Beruntung kesadaran pribadi terus membimbingnya untuk melakukan mobilitas vertikal lewat pendidikan, sehingga dapat melampaui Taman Sari. Dalam pergulatan itu ada juga dorongan kuat untuk melakukan perubahan lingkungan. Sebagai agen perubahan (agent of change) Ia membangun Paguyuban Taman Sari yang mendorong para perajin batik meningkat menjadi Pelukis-pelukis.

Harjiman memang tumbuh dengan ketrampilan sosial yang cair. Di samping itu sebagai pelukis dari kehidupan rakyat dan kekayaan kultural Yogyakarta, ia mempunyai ekspresi dengan simbol-simbol komunikatif sesuai konvensi dan nafas masyarakatnya Taman Sari. Harjiman sebagai profesional integratif yang masih terus berekplorasi, dalam perjalanan seni lukisnya pernah mengalami disharmoni keluarga, konflik-konflik, sampai perpecahan. Uniknya dia bisa mentransendir ketegangan-ketegangan itu lewat perjalanan pencarian ke daerah-daerah pelosok sampai ke tanah suci Mekkah Al Mukaromah.

Tahun 1970 Harjiman ikut mendirikan sanggar Kalpika di Kampung Taman sari, cita-citanya untuk mengangkat derajat kehidupan sanak-suadara dan komunitas seni kerajinan batik agar lebih bisa menghidupi baik lahir maupun batin, ternyata terpaksa mentok karena berbagai hal, seperti adanya status magersari yang dirasa sangat membelenggu kreatifitas seniman yang ingin berkembang baik fisik maupun obsesinya. Selama berkecimpung dalam dunia batik-membatik yang notabene bisnis home industri, Harjiman berusaha untuk dapat membina paguyuban senirupa Taman Sari, termasuk juga aktifitas pembuatan batik sebagai biaya studi di STSRI ASRI, yang pada tahun 1984 dapat diselesaikannya.

Namun ada sesuatau yang sangat mendesak dan selalu bergejolak untuk dapat direalisir oleh sosok Harjiman, yaitu adanya sebuah Museum Harjiman, yang menurutnya tak mungkin untuk didirikan di Taman Sari atau di Suryodiningratan, dimana ia pernah tinggal selama 4 tahun. Untuk itu Harjiman mulai menggagas realisasi Museum tersebut di luar Kota, ia mendapatkan lokasi yang sangat tepat menurut perhitungannya yaitu di Sentikan - Karangnongko - Tirto Martani - Kalasan. Di tempat ini yang diyakini sebagai tempat yang erat kaitannya dengan kehidupan berkesenian yang sangat membutuhkan adanya kondisi simbiosis mutualistis dengan lingkungannya.

Menurut Harjiman, kondidi Sentikan tidak jauh berbeda dengan Taman sari dengan berbagai potensinya, di Sentikan ini ada sifat masyarakat yang namanya gotong royong antar sesama, ada semangat untuk maju dengan membuka diri dari pergaulan, juga ada semangat untuk menerima pembaharuan. Maka dengan kondisi yang demikian itu, Harjiman tidak kecewa dengan pilihan yang telah diambil untuk mewujudkan obsesinya mendirikan museum Harjiman yang sudah sekian lama ingin segera hadir.

Kehadiran musseum-nya nanti harus dapat digunakan untuk kepentingan banyak pelaku budaya lainnya seperti, Penelitian sejarah seni rupa, workshop atau kegiatan lain. Bahkan jika mungkin sebagai rangsangan untuk menumbuh kembangkan pengertian kepada para pelukis muda berbakat lainnya untuk mempunyai kegairahan menyimpan karya seninya yang adi luhung, tidak hanya dijual kepada kolektor seni saja.

Mengingat sekarang ini dalam lingkungan kehidupan kalangan menengah ke atas sudah muncul adanya lukisan berbobot sebagai salah satu simbol kemapanan seseorang, hal ini timbul karena adanya kemajuan berapresiasi di dalam kesenian khususnya seni rupa. Ditempatnya yang baru ini dirasa sangat menarik untuk membangun kontribusi budaya dalam kehidupan jangka panjang, dan setelah mengalami adabtasi dengan lingkunan fisik maupun sosial, timbul pemikiran yang dilatar belakangi setting Taman Sari yang sangat mungkin untuk bisa diterapkan di Sentikan Kalasan.

Bermodalkan sebagai seniman yang konsisten dengan kesenimanannya, maka Harjiman bertekad merealisir terwujudnya musem Harjiman di situ. Yang mendesak untuk digarap adalah, adanya komponen penyangga berupa respon positif dari masyarakat lingkungannya, sehingga mampu mendukung semakin cerahnya aura Jogja sebagai pusat budaya. Dengan banyaknya museum yang dimiliki para seniman, diharapkan dapat memberikan dampak mengalirnya kunjungan wisatawan baik manca negara maupun Nusantara ke Jogja tercinta ini. Dengan tumbuhnya kreatifitas yang dahsyat ini diharapkan berdampak pada perekonomian, pendidikan, pariwisata dan sebagainya yang mampu membangkitkan gairah perekonomian rakyat kecil sebagai pelaku budaya.

Berawal pada tahun 1994 Harjiman membeli tanah seluas 2000 meter persegi sebagai calon lokasi museum yang terletak di depan studionya. Di Sentikan diharapkan dalam delapan tahun mendatang sudah bangkit adanya kawasan Desa Budaya yang di dukung oleh pelaku budaya dari para warganya yang berkiprah pada pertanian, perikanan, sanggar seni lukis anak, TPA, batik, keramik/kriya, seniman kereta dan sebagainya.

Pada tahun 2000 yang lalu telah berhasil dilaksakan peletakan batu pertama oleh Bapak Damarjati Supajar, yang diiringi prosesi seni dari kawan-kawan seniman Jogja yang menghadirkan kreatifitas seni adi luhung yang menyatu dengan masyarakat Sentikan. Setiap mengadakan pameran sebagai kewajiban seorang pelukis untuk memberikan laporan hasil karya yang telah memenuhi studio kepada khalayak ramai, Harjiman juga ingin membeberkan tentang kemajuan proses kreatif kontribusi budaya berupa pembangunan museum, yang pada tahun 2003 ini sudah bisa membuat dak dan lainnya.

Karena prosesnya yang makan waktu lama, maka akan membawa konsekuensi bagi lingkungan sekitar bagaimana masyarakat merespon adanya sebuah museum, untuk itu Harjiman mengambil inisiatif memberikan motifasi agar dalam pergumulannya nanti akan terjalin penyadaran diri dan tumbuhnya simbiose mutualisma di antara museum dan Harjiman si pelukis sebagai isi dan masyarakat sebagai wadahnya. Sehingga harus ditekankan adanya potensi warga yang bisa dikembangkan untuk memajukan taraf kehidupan warga, contohnya posisi Desa yang layak sebagai Desa Budaya, mengingat letaknya yang strategis dalam segi tiga Candi yaitu, sebelah timur Candi Prambanan, utara Candi Kidulan dan selatan Candi Sari dan Kalasan, yang masing-masing hanya berjarak 1 Km saja.

Yang menarik dalam radius segitiga candi ini adalah, bahwa pada waktu terjadinya candi dahulu kala, di Sentikan ini telah berkembang kebudayaan yang tinggi, ini terbukti dengan masih sering terdapatnya peninggalan relief candi yang sering diketemukan di wilayah Sentikan. Sebagai pelukis yang peduli dengan lingkungan, Harjiman ingin bersama-sama dengan warga untuk membangun kawasan Desa budaya untuk menghidupkan potensi alam dan SDM warganya maju seiring kemajuan zaman. Yang mendesak untuk digarap adalah potensi perikanan mengingat letaknya yang di bentaran sungai, lahan yang menjadi tanah bengkok perangkat Desa ini oleh Harjiman di sewa untuk dibuat kolam yang dikelola oleh warga, sementara ini ada yang sudah ditebari ikan sebanyak 15 ribu ekor dan diharapkan bisa panen nantinya untuk kesejahteraan warga, sedang lahan lain yang masih membutuhkan penanganan akan dijadikan pilot projek sebagai kontribusi kepada warganya.

Kontek Desa budaya ini draf-nya sudah sampai kepada tingkat Desa Tirto Martani yang akan dijadikan program Pemerintah Desa. Meski demikian masih perlu diadakan pemanduan dan minitoring dari pihak penggagas yaitu Harjiman itu sendiri untuk menjaga agar draf tersebut tidak melenceng dari tujuan dan jadwal yang di gariskan. Untuk itu telah diadakan koordinasi-koordinasi pada tingkat Desa dan Dusun guna melampaui tahapan-tahapan realisasinya.

Kiranya kehadiran profil kita kali ini dapat memotifasi diri kita sendiri paling tidak, untuk dapat menggugah kepekaan terhadap potensi diri sendiri yang sangat mungkin untuk mengguiding potensi lingkungan dapat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi, ini bukan hal yang istimewa, tetapi sangat mungkin untuk terjadi, semoga. (KHI/Pier).

1 komentar:

  1. Semoga banyak pelaku seni mengikuti jejak almarhum ... dari hal hal yang baik sebagai seorang pelukis maupun sebagai masyarakat ditengah linkungannya terdekat maupun lebih luas lagi

    BalasHapus

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A. Anzieb A. Khoirul Anam A. Kirno Tanda A.C. Andre Tanama A.D. Pirous A.S. Laksana Abdillah M Marzuqi Abdul Ajis Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abu Nisrina Adhi Pandoyo Adib Muttaqin Asfar Adreas Anggit W. Afnan Malay Agama Para Bajingan Agung Kurniawan Agung WHS Agus B. Harianto Agus Dermawan T Agus Hernawan Agus Mulyadi Agus R. Subagyo Agus Sigit Agus Sulton Agus Sunyoto Aguslia Hidayah AH J Khuzaini Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Alim Bakhtiar Alur Alun Tanjidor Amang Rahman Jubair Amien Kamil Amri Yahya Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo Andong Buku Andong Buku #3 Andong Buku 3 Andry Deblenk Anindita S Thayf Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Adrian Anton Kurnia Anwar Holid Ardhabilly Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arti Bumi Intaran Ary B Prass Aryo Wisanggeni G AS Sumbawi Awalludin GD Mualif Ayu Nuzul Ayu Sulistyowati Bambang Bujono Bambang Soebendo Bambang Thelo Bandung Mawardi Baridul Islam Pr Basoeki Abdullah Basuki Ratna K BE Satrio Beni Setia Bentara Budaya Yogyakarta Berita Brunel University London Buku Kritik Sastra Bustan Basir Maras Candrakirana KOSTELA Catatan Cover Buku Dahlan Kong Daniel Paranamesa Dari Lisan ke Lisan Darju Prasetya Debat Panjang Polemik Sains di Facebook Dedy Sufriadi Dedykalee Denny JA Desy Susilawati Di Balik Semak Pitutur Jawa Dian Sukarno Dian Yuliastuti Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dipo Handoko Disbudpar Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddi Ahmad Fauji Donny Anggoro Donny Darmawan Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwin Gideon Edo Adityo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Esai Evan Ys F. Budi Hardiman Faidil Akbar Faizalbnu Fatah Yasin Noor Festival Teater Religi Forum Lingkar Pena Lamongan Forum Penulis dan Penggiat Literasi Lamongan (FP2L) Forum Santri Nasional Franz Kafka Galeri Sonobudoyo Gatot Widodo Goenawan Mohamad Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Hans Pols Hardjito Haris Saputra Harjiman Harryadjie BS Hendra Sofyan Hendri Yetus Siswono Hendro Wiyanto Heri Kris Herman Syahara Heru Emka Heru Kuntoyo htanzil I Wayan Seriyoga Parta Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indigo Art Space Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Intan Ungaling Dian Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Jajang R Kawentar Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jiero Cafe Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jonathan Ziberg Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jual Buku Paket Hemat 23 Jumartono K.H. Ma'ruf Amin Kabar Kadjie MM Kalis Mardiasih Karikatur Hitam-Putih Karikatur Pensil Warna Kartika Foundation Kemah Budaya Pantura (KBP) Kembulan KetemuBuku Jombang Kitab Puisi Suluk Berahi karya Gampang Prawoto Koktail Komik Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela) Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Koskow Koskow (FX. Widyatmoko) KOSTELA Kris Monika E Kyai Sahal Mahfudz L. Ridwan Muljosudarmo Laksmi Shitaresmi Leo Tolstoy Literasa Donuts Lords of the Bow Luhung Sapto Lukas Luwarso Lukisan M Anta Kusuma M. Ilham S M. Yoesoef Mahmud Jauhari Ali Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoenomo Mas Dibyo Mashuri Massayu Masuki M Astro Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Moch. Faisol Moh. Jauhar al-Hakimi Moses Misdy Muhajir Muhammad Antakusuma Muhammad Muhibbuddin Muhammad Yasir Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musdalifah Fachri Ndix Endik Nelson Alwi Nietzsche Noor H. Dee Novel Pekik Nung Bonham Nurel Javissyarqi Nurul Hadi Koclok Nuryana Asmaudi SA Obrolan Octavio Paz Oil on Canvas Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Pagelaran Musim Tandur Pameran Lukisan Pasar Seni Indonesia Pasar Seni Lukis Indonesia PC. Lesbumi NU Babat Pekan Literasi Lamongan Pelukis Pelukis Dahlan Kong Pelukis Harjiman Pelukis Saron Pelukis Sugeng Ariyadi Pelukis Tarmuzie Pendhapa Art Space Penerbit PUstaka puJAngga Penerbit SastraSewu Pesta Malang Sejuta Buku 2014 Proses kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi PuJa Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga R Ridwan Hasan Saputra Rabdul Rohim Rahasia Literasi Rakai Lukman Rambuana Raudlotul Immaroh Redland Movie Remy Sylado Rengga AP Resensi Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Riki Antoni Robin Al Kautsar Rodli TL Rudi Isbandi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rumoh Projects S. Yadi K Sabrank Suparno Saham Sugiono Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Pasir Art and Culture Sapto Hoedojo Sastra Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra ke #24 Senarai Pemikiran Sutejo Seni Rupa Septi Sutrisna Seraphina Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sketsa Soesilo Toer Sofyan RH. Zaid Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Srihadi Soedarsono Stefanus P. Elu Suci Ayu Latifah Sugeng Ariyadi Suharwedy Sunu Wasono Susiyo Guntur Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno SZ Syifa Amori Tammalele Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace TANETE Tarmuzie Taufiq Wr. Hidayat Teguh Setiawan Pinang Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Toko Buku PUstaka puJAngga Lamongan Toto Nugroho Tri Andhi S Tri Moeljo Triyono Tu-ngang Iskandar Tulus Rahadi Tulus S Universitas Indonesia Universitas Jember Vincent van Gogh Vini Mariyane Rosya W.S. Rendra Wachid Duhri Syamroni Wahyudin Warung Boenga Ketjil Wasito Wawancara Wayan Sunarta William Bradley Horton Yona Primadesi Yosep Arizal L Yunisa Zawawi Se Zulfian Hariyadi