Adhi Pandoyo
bagai aur dengan tebing
Memetakan kehidupan, lebih-lebih kebudayaan, tidaklah
sesederhana mengaktifkan lokasi akun gadget kita dalam google
map, agar segala riwayat perjalanan kita terlacak. Adanya
perkembangan pemetaan selama berabad-abad sejak lembaran-lembaran arsip
navigasi hingga citra potret satelit paling canggih dan akurat sekalipun, tak
sanggup menjelaskan saling-silang kebudayaan. Tak heran dalam membaca
kebudayaan, denah geografis mesti membutuhkan penjelasan Ilmu-ilmu sosial dan
humaniora; Semata-mata agar keterbatasan visualnya teratasi.